AS Chamidi AS Chamidi Author
Title: Nama untuk Pendopo Bupati, Pentingkah?
Author: AS Chamidi
Rating 5 of 5 Des:
* Hari ini saya membaca media lokal Kebumen terkait 'angan-angan' Bupati tentang perlunya Pendopo Bupati Kebumen memil...

*


Hari ini saya membaca media lokal Kebumen terkait 'angan-angan' Bupati tentang perlunya Pendopo Bupati Kebumen memiliki sebuah nama.

Apa arti sebuah nama?
Pentingkah nama?

Umumnya tentu akan menjawab singkat: ya penting lah. Minimal nama itu untuk identitas. Coba bayangkan jika seorang anak lahir tanpa diberi nama. Tapi ini khan bukan orang, ini Pendopo, tak bernama pun tak apalah! Ya, tapi ini khan pendopo bukan sembarang pendopo, ini Pendopo Bupati. Ada muatan simbolis yang melekat.

Yah, terkadang sesuatu yang biasa dapat berubah menjadi luar biasa ketika sesuatu itu dikemukakan oleh orang yang tidak biasa. Hanya saja, apa sich sebenarnya keluarbiasaan dari sebuah Pendopo Bupati (PB)? Apa yang mendasari PB jadi luar biasa? Lalu, apa manfaatnya, khususnya untuk Kebumen?

Pendopo dalam kosmologi rumah Jawa lebih dipandang sebagai 'rumah depan' dari tuan rumah, yang lazimnya dipergunakan oleh tuan rumah untuk menerima tamu, menghelat acara besar, dan sejenisnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendopo adalah 'bangunan yang luas terbuka (tanpa batas atau sekat), terletak di bagian depan rumah, disediakan untuk pertemuan, rapat, peralatan, serta keperluan lain yang ada hubungannya dengan keperluan masyarakat'.

Menurut hemat saya, ada dua hal penting dikemukakan di sini sebelum Pendopo Bupati diberi nama, setidaknya ini jadi semacam urun rembug saya. Dua hal itu, yang pertama terkait dengan tuan rumah, Bupati, dan  yang kedua terkait dengan fungsi.

Pertama, terkait dengan Bupati selaku 'tuan rumah', maka nama Pendopo Bupati cukup cocok juga menggunakan nama tokoh lokal atau nasional yang terkait dengan Kebumen. Nama tokoh menjadi simbol yang dapat menjadi identitas khas Kebumen dengan masyarakatnya. Bupati sebagai tuan rumah pun kemudian menjadi realitas dari simbol itu sendiri. Namun demikian, penggunaan nama tokoh akan melahirkan ragam konsepsi baru di tengah masyarakat. Misalnya, Bupatinya bernama A, Pendoponya bernama B. Lalu masyarakat akan melahirkan konsepsi baru tentang hubungan A dengan B, termasuk mitologi simbolik di dalamnya. Menurut hemat saya, nama tokoh lebih baik dihindari untuk menghindari ragam konsepsi baru beserta mitologi simbolis di seputarnya, terutama yang tidak mendidik.

Kedua, terkait dengan fungsi, bahwa Pendopo memiliki fungsi sosial, fungsi publik, yang fungsi ini berbasiskan bukan pada siapa Bupatinya, akan tetapi berbasiskan pada nilai-nilai kebajikan yang menjadi kebutuhan masyarakat Kebumen sesuai dengan karakter khas masyarakat Kebumen. Apa yang bernilai dan penting kedepan bagi Kebumen dan masyarakatnya justru lebih penting disini, yang tersimbolkan dalam penamaan Pendopo Bupati. Misalnya nama Pendopo Adhem Tentrem, ini mewakili nilai-nilai kebajikan yang dipentingkan oleh masyarakat Kebumen  bahwa hidup bermasyarakat di Kebumen itu penting untuk mengedepankan kesejukan (adhem) dan ketenteraman (tentrem), dan penamaan seperti ini justru akan menginspirasi Bupati itu sendiri dan masyarakat Kebumen secara umum. Menurut hemat saya, penamaan Pendopo Bupati lebih pas dengan nama yang mewakili konsep dan cita-cita luhur masyarakat Kebumen. Nama berbasis fungsi ini setidaknya akan menjauhkan dari keisengan membanding-bandingkan antara tuan rumah dengan nama Pendoponya.

Kembali pada persoalan 'pentingkah nama bagi Pendopo Bupati Kebumen?', saya rasa ini penting sebab di dalam sebuah nama tersembunyi cita-cita dan  juga doa. 

Wallahu a'lam.


Reaksi:

About Author

Advertisement

 
Top