AS Chamidi AS Chamidi Author
Title: Manusia Kebumen, Sepercik Kajian Awal
Author: AS Chamidi
Rating 5 of 5 Des:
Me(re)konstruksi Sejarah Manusia Kebumen, Kajian Awal Agus Salim Chamidi [1] Pendahuluan Sejarah merupakan rekonstruksi ma...


Me(re)konstruksi Sejarah Manusia Kebumen, Kajian Awal
Agus Salim Chamidi [1]


Pendahuluan
Sejarah merupakan rekonstruksi masalalu tentang apa saja yang sudah dipikirkan, dikerjakan, dikatakan, dirasakan, dan dialami oleh seseorang/masyarakat [2]. Merekonstruksi masalalu itu bukanlah untuk kepentingan masalalu itu sendiri, akan tetapi sejarah memiliki kepentingan untuk masakini dan masa mendatang. Rekonstruksi ini terkadang subyektif sehingga sejarah kemudian menjadi alat politik tokohnya dan penulisan sejarah pun menjadi bias. Rekonstruksi ini pun terkadang bergaya kolonial sehingga sejarah pun menjadi sarat muatan penilaian bahwa penjajah adalah kejam dan licik pada satu sisi, dan pada sisi yang lain rakyat terjajah itu bodoh, minder, dan marjinal, yang pada gilirannya sejarah adalah milik penguasa baru. Kedua gaya rekonstruksi di atas kemudian secara metodologis diperbaiki dengan merekonstruksi sejarah dengan melibatkan kajian ilmu sosial multidimensional sehingga kemudian muncul kajian sejarah struktural [3] dimana sejarah itu dipengaruhi oleh struktur masyarakat sejarah itu sendiri. Salah satu karya sejarah monumental bergaya struktural adalah tulisan Sartono Kartodirjo tentang pemberontakan petani [4].  
Namun demikian, lepas dari persoalan how to reconsctruct , sejarah merupakan ilmu pengalaman yang sangat tergantung pada pengalaman manusia/masyarakat yang terekam pada dokumen atau sumber sejarah. Rekaman ini memang kadang dapat langsung memberikan informasi kesejarahannya, akan tetapi terkadang rekaman ini menghadirkan interpretasi sejarah dimana pemaknaan-pemaknaan muncul dan memberikan sajian sintesa kesejarahan yang logis. Dengan demikian, kajian sejarah  pun menjadi multi perspektif dan ilmu sejarah pun menjadi ilmu yang ‘hidup’ sepanjang perjalanan sejarah hidup dan kehidupan masyarakat manusia.
 Tulisan saya ini lebih tepat sebagai tulisan pemantik awal saja yang sekiranya nanti dapat menarik perhatian penulis lain dan pemerhati sejarah Kebumen untuk mendedah lebih mendalam lagi. Tulisan ini mencoba mendekati kesejarahan Kebumen dengan menggunakan gaya interpretasi terhadap fakta-fakta kesejarahan yang sekarang masih ‘hidup’ di tengah masyarakat manusia Kebumen. Saya berusaha mencoba menyajikan keunikan melalui historiografi Kebumen dalam nalar rekonstruksi historis ala Kuntowijoyo [5] sehingga penulisan dapat runtut kronologis, kausalistik, dan imajinatif logis, meskipun di sana-sini sangat mungkin tulisan saya masih banyak celah kelemahan dan kekurangan.

Era Bumidirdjo Pasca Sultan Agung dan Badranala
Secara heuristik, saya akan mencoba menuturkan sejarah Kebumen dari dokumen kontemporer yang masih berlaku. Dalam Lampiran Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 6 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Kebumen Tahun 2016-2021, Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah disebutkan bahwa sejarah Kabupaten Kebumen berawal dari kedatangan bangsawan ulama dari Kerajaan Mataram bernama Kyai Pangeran Bumidirdjo [6] di Panjer [7] pada tahun 1670. Berdasarkan bukti-bukti sejarah, Kebumen berasal dari kata Bumi, nama sebutan bagi Kyai Pangeran Bumidirdjo, mendapatkan awalan ke-  dan akhiran –an yang menyatakan tempat (hal.20). Kabupaten Kebumen bercorak agraris dengan penggunaan lahan yang dominan sebagai lahan persawahan (hal.23). Kawasan cagar budaya meliputi: (a)Benteng Van Der Wijck [8] di Kelurahan Gombong, (b)Benteng Jepang [9] di Desa Argopeni Ayah, (c)Masjid Soko Tunggal [10] di Desa Sedayu Sempor, (d)Candi Lingga dan Yoni [11] di Desa Sumberadi Kebumen, (e)Goa Menganti [12] di Desa Karangduwur Ayah, (f)Situs Makam Mbah Lancing [13] di Desa Tlogodepok Mirit, (g)Situs Makam Mbah Somalangu [14] di Desa Sumberadi Kebumen, (h)Situs Makam Mbah Untung Suropati [15] di Desa Clapar Karanggayam, (i)Situs Makam Mbah Agung [16] di Desa Kajoran Karanggayam, (j)Situs Makam Mbah Pako [17] di Desa Wonotirto Karanggayam, (k)Situs Makam Mbah Pagerjawa di Desa Kalibening Karanggayam, (l)Pesanggrahan Bulupitu [18] di Desa Tunjungseto Kutowinangun, (m)Pesanggrahan Pandan Kuning [19] di Desa Karanggadung Petanahan, dan (n)Pesanggrahan Karangbolong [20] di Desa Karangbolong Buayan. (hal.26-27).
Sebelumnya saya akan mencoba membangun kronologi kesejarahan Kebumen dari sosok Kyai Pangeran Bumidirdjo (1609-1688). Yang pertama, bahwa pada tahun 1670 Bumidirdjo beserta keluarga dan pengikutnya mengasingkan diri dari Mataram ke wilayah Panjer, dan diberi tanah bengkok di tepian utara Sungai Lukulo (tanggal 26 Juni 1677). Mataram saat itu dalam kekuasaan Kanjeng Sultan Amangkurat Agung (Amangkurat I) (1645-1677) yang pro VOC Belanda. Puncaknya adalah saat Amangkurat I menjatuhkan hukuman penggal kepala (qishash) kepada Pangeran Pekik mertua Bumidirdjo pada tahun 1659. Kedua, bahwa Bumidirdjo merupakan putra ke-5 dari Panembahan Sedakrapyak raja kedua Kasultanan Mataram (1601-1613), saudara dari Sultan Agung (1613-1645), sosok bangsawan dan sekaligus ulama Islam, dan menjadi anggota Dewan Parampara Mataram. Ketiga, setelah diketahui mata-mata Mataram Bumidirdjo berpindah ke wilayah Lerep (LerepKebumen) dan ke wilayah Lundong (Kutowinangun) menyamar sebagai orang biasa dan bertani sambil menyiarkan agama Islam sampai wafatnya tahun 1688. Catatan penting tentang sosok Bumidirdjo adalah bahwa Bumidirdjo merupakan (1) saudara Sultan Agung yang menyerang VOC Belanda di Batavia. (2)tokoh anti VOC Belanda,  (3)tokoh bangsawan ulama, dan (4)menjaga harmonisasi hubungan kesejarahan Mataram dengan Panjer dengan cara menyingkirkan diri ke Lerep dan Lundong sampai wafatnya.
Menurut saya, dari sosok Bumidirdjo nampak keunikan khas Jawa-Islam. Tokoh ini nampaknya membangun strategi jangka panjang dalam 2 hal, yaitu, (1)mempersiapkan basis agraris menjadi penyangga utama perlawanan terhadap VOC Belanda, dan (2)mempersiapkan basis massa Jawa-Islam di luar pusat kekuasaan Mataram. Apa yang dipersiapkan Bumidirdjo berbanding lurus dengan strategi Sultan Agung kakaknya dan Badranala Panjer saat menyerang Batavia dimana Panjer menjadi sumber logistik (1628-1629). Apa yang dipersiapkan oleh Bumidirdjo nantinya dipetik oleh Pangeran Dipanegara dalam Perang Jawa (1825-1830), dan ini akan saya ulas kemudian.
Mataram di bawah Amangkurat I yang pro VOC Belanda membuat Mataram terpolarisasi dalam dua kutub besar, pro dan anti VOC Belanda. Dalam situasi yang demikian inilah kemudian Panjer menjadi pilihan bagi kelompok anti VOC Belanda untuk melakukan gerakan perlawanan. Panjer era Badranala sudah teruji kesetiaannya pada Mataram Sultan Agung dengan menjadi lumbung logistik penyerangan ke Batavia. Sosok Bumidirdjo – saudara Sultan Agung yang legendaris di mata rakyat – adalah sosok strategis bagi kelompok anti VOC Belanda untuk kembali menggugah semangat perlawanan terhadap VOC Belanda, untuk melakukan koreksi terhadap Mataram yang pro VOC Belanda [21], sekaligus untuk mempersiapkan dukungan rakyat yang secara tradisional mayoritas beragama Islam. Menurut hemat saya, perkembangan pusat-pusat pendidikan Islam – pesantren, langgar, dan masjid – banyak mengalami perkembangan pesat di wilayah pinggiran Panjer terjadi pada masa Bumidirdjo.

Era Dipanegara
Berikutnya saya akan mencoba menelisik keunikan Kebumen melalui sejarah Perang Jawa (Java Oorlog) yang lebih dikenal sebagai Perang Dipanegara (1825-1830). Dipanegara – Bendara Pangeran Harya Dipanegara (11 Nopember 1785 – 8 Januari 1855) – adalah putra sulung Sultan Hamengkubuwana III Kesultanan Yogyakarta dari istri selir Raden Ayu Mangkarawati dari Pacitan. Masa kecilnya lebih banyak tinggal di Tegalrejo bersama eyang buyut putrinya Gusti Kanjeng Ratu Tegalrejo permaisuri Sultan Hamengkubuwana I. Dipanegara mulai memberontak dengan cara perwalian atas Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun yang dipegang oleh Patih Danureja dan Residen Belanda. Pemberontakan Dipanegara menjadi terbuka sejak pihak Belanda melakukan tindakan sepihak pematokan di wilayah Tegalrejo, tidak menghargai adat istiadat setempat, dan mengeksploitasi  rakyat dengan pajak yang berat. Kemudian Dipanegara membuat markas di Gua Selarong dan mulai mengobarkan perang suci bersama 112 kyai, 31 haji,  15 syekh, dan sejumlah penghulu.
Di wilayah Panjer dan sekitarnya (baca: Kebumen), kondisi sosial keagamaan yang telah dirintis oleh Bumidirdjo sebelumnya pun menjadi bagian strategis Dipanegara untuk memperoleh dukungan perang suci melawan Belanda. Panjer sebagai wilayah agraris yang subur pun memperkuat posisi Dipanegara dengan bantuan logistik yang cukup. Dalam perjalanan Perang Jawa, wilayah Panjer pun menjadi basis pertahanan terakhir Dipanegara. Ravie Ananda [22] menyebutkan bahwa Panjer adalah pusat pertahanan Pangeran Dipanegara sejak  kesepakatan perundingan Kalapaking IV penguasa Kadipaten Panjer dengan Senopati Sura Mataram – panglima perang daerah Ledok hulu Sungai Serayu – dan Ki Kertadrana – Adipati Sigaluh, pada tanggal 21 Juli 1826, dimana Panjer menyediakan logistik pangan dan senjata.
 Lagi-lagi keunikan Kebumen mengemuka dengan kekhasannya sebagai basis masyarakat Jawa-Islam yang tradisionalis dan sekaligus agraris. Menurut saya, sentimen keagamaan Islam lebih dominan sebagai ruh keunikan perlawanan di wilayah Kebumen. Sulutan perang suci jihad fisabilillah menjadi sumbu pendek untuk mengobarkan perlawanan terhadap upaya hegemonistik VOC Belanda terhadap tanah Jawa dan Islam. Saya pikir sejak era Bumidirdjo sampai dengan Dipanegara yang berlangsung sekitar satu setengah abad ini telah terbentuk mentalitas perlawanan khas masyarakat manusia Kebumen yang Jawa-Islam. Secara kultural kemudian  mentalitas ini pun terdokumentasikan dalam seni budaya bernafaskan perlawanan seperti cepetan alas dan ebleg yang relatif bukan sebagai kultur Islam.

Tentang 15 Cagar Budaya
Terkait dengan sejumlah kawasan cagar budaya di atas, saya melihat bahwa cagar budaya yang terdokumentasikan itu belum komplit dan tuntut. Saya pikir ada sejumlah situs yang perlu digali kembali dan direkonstruksi sehingga alur historis satu sama lain menjadi rangkaian yang relatif tuntut berhubungan. Ini tentunya menjadi pekerjaan rumah kita semua. Namun demikian, saya mencoba membagi 15 cagar budaya itu menjadi 4 bagian, yaitu:
1.     Situs yang berhubungan dengan religi pra-Islam, 1 candi lingga-yoni
2.     Situs yang berhubungan dengan religi Jawa, berupa 3 pesanggrahan dan 1 goa
3.     Situs yang berhubungan dengan religi Islam, yang berupa 6 makam dan 1 masjid,
4.     Situs yang berhubungan dengan masa kolonial, 2 benteng.

Dari pembagian di atas saya mencoba menafsirkan bahwa kesejarahan Kebumen itu banyak dipengaruhi oleh Kesultanan Jawa Mataram Islam. Hal ini diperkuat dengan tokoh-tokoh historis Kebumen yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Kesultanan Jawa Mataram Islam, seperti Badranala, Bumidirdjo, Dipanegara, Arungbinang, Kalapaking. Kebumen sebagai sebuah wilayah yang memiliki struktur wilayah pantai – Pantai Selatan, Laut Kidul – pun mempercayai eksistensi Nyai Roro Kidul dan lainnya, yang eksistensi ini juga hidup dalam tradisi Kesultanan Jawa Mataram Islam, yang dengan kata lain religi Jawa Islam di Kebumen dipengaruhi pula oleh tradisi religious Kesultanan Jawa Mataram Islam.    

Era Modern
Kabupaten Kebumen secara adminsitratif yang masih berlaku sampai sekarang ini mendasarkan pada Surat Keputusan tentang Penggabungan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Kebumen dalam Lembaran Negara Hindia Belanda Tahun 1935 Nomor 629, yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda De Jonge Nomor 3 tertanggal 31 Desember 1935 yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1936. Ketetapan ini kemudian ditetapkan kembali dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1990 tentang Hari Jadi Kebumen. Saat itu Kabupaten Kebumen dipimpin Arungbinang VIII (1934-1942). Secara politik, wilayah Kebumen berada di bawah kendali kolonial Belanda. Pada saat itu Yogyakarta (Mataram) sebagai ‘kiblat’ Kebumen berstatus de jure negara dependen dari Nederlands Indie (1830-1942) dan negara dependen Kekaisaran Jepang (1942-1945). Penggabungan itu berlangsung pada saat Yogyakarta dipimpin oleh Hamengkubuwana VIII (1921-1939).
KeIslaman masyarakat Kebumen, menurut saya, terbonsai dari figure kharismatik sekelas Dipanegara. Satu-satunya kekhasan keIslamannya adalah pondok-pondok pesantren sebagai basis budaya sekaligus basis pergerakan sosial. Lahirnya NU (1926) menjadi ‘kiblat’ baru keIslaman masyarakat Kebumen [23]. Apalagi tradisi NU memberikan ruang bagi kalangan religi Jawa (Kejawen) untuk bersinggungan damai, sehingga kehadiran NU menjadi welcoming di kalangan rakyat di wilayah Kebumen. Dan ketika berkembang munculnya kelaskaran pada era Jepang, termasuk Laskar Hizbullah [24], maka masyarakat Islam Kebumen pun -  menurut saya – menyambut baik dan bergabung dalam ragam kelaskaran. 

Memotret Kota Kebumen
Apabila kita berkeliling kota Kebumen, kita akan banyak menjumpai nama-nama jalan raya dengan sejumlah nama pahlawan nasional yang berasal dari kalangan militer. Hal ini banyak kita temukan di berbagai kota lain di Indonesia. Dari nama-nama tokoh yang terdokumentasikan dalam nama-nama jalan, terdapat beberapa nama tokoh lokal, seperti Kolopaking (utara Pasar Tumenggungan), Arungbinang (Pasar Koplak ke timur), Bumidirdjo (Desa Kawedusan ke timur), Jaka Sangkrip (Desa Kembaran), Jamenggala (utara SMPN5), Kramaleksana (Kelurahan Selang), dan lainnya. Ada juga nama jalan yang menggunakan nama gunung, Indrakila (Mapolres ke barat), yang juga menjadi nama radio pemerintah. Meskipun Dipanegara pernah menjadikan Kebumen sebagai basis perjuangannya, di Kebumen  tidak ditemukan nama jalan Dipanegara. Secara umum,  beberapa nama jalan di Kebumen  memiliki akar historis dengan kesejarahan Kebumen, dan sejumlah nama yang menyejarah nampaknya belum menjadi bagian dari penamaan jalan di Kebumen. Pemotretan ini sekedar memberikan gambaran umum bahwa kesejarahan lokal Kebumen belum tampil mengemuka. Sudah lumayan terakhir ini nama rumah sakit umum di Kebumen mengambil nama tokoh kesehatan lokal, Dokter Soedirman.

Penutup
Kebumen, dalam kajian sejarah sosial menurut saya tidak memiliki keunikan dan kekhasan tokoh yang fundamental. Tokoh pergerakan sosial dan perlawanan yang heroistik tidak terlahir dari Kebumen, sejak zaman Mataram Islam sampai zaman kemerdekaan. Tokoh sekelas Badranala lebih banyak terbaca sebagai sosok Mataram  kemenakannya Sultan Agung. Tokoh sekelas  Bumidirdjo lebih dikenal sebagai tokoh Mataram yang hijrah ke Kebumen saja.
Kebumen, dalam kajian sejarah struktural menurut saya  hanya memiliki keunikan dan kekhasan mentalitas  yang dominan Jawa-Islam-agraris saja. Mentalitas ini setidaknya sudah terbangun sejak era Bumidirdjo. Namun demikian, mentalitas sebagai sumberdaya budaya ini layak menjadi modal dan daya dorong  bagi Kebumen untuk bijak menyusun kemandirian masadepannya di tengah arus deras globalisasi. Secara historis wajah baru mentalitas nampaknya perlu menjadi salah satu pintu masuk (re)konstruksi manusia Kebumen masa depan. Wallahu a’lam.





[1] Dosen IAINU Kebumen
[2] Kuntowijoyo, 1995, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta, Yayasan Bentang Budaya, hal 14.
[3] Dikembangkan oleh sejarawan kondang Perancis Fernand Braudel (1902-1985) yang dikenal dengan madzhab Annales.
[4] Sartono Kartodirdjo, 1984, Pemberontakan Petani Banten 1888, Jakarta, Pustaka Jaya. Buku ini menarik sebab sejarah dipaparkan dalam perspektif sosial petani Banten yang berhadapan dengan hegemoni penguasa VOC Belanda pada saat itu.
[5] Kuntowijoyo, 1995, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta, Yayasan Bentang Budaya.
[6] Bumididjo merupakan salah satu anggota Dewan Parampara Mataram (Dewan Penasehat),  adik kandung Sultan Agung yang menyingkir dari Mataram sepeninggalan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1645) dan kekuasaan Mataram dipegang Amangkurat Agung (Amangkurat I) yang otoriter. Bumidirdjo alias Ki Bumi tinggal di tepi Sungai Lukulo dan sempat berpindah ke wilayah Lerep (Lerep Kebumen), dan meninggal dimakamkan di Lundong Kutowinangun. Selama pindah, rumah tinggal Bumidirdjo diserahkan kepada pembantu setianya yang bernama Diporejo yang didampingi oleh pembantu lainnya: Ki Basek (Kebasekan), Ki Trima (Ketraman), Ki Taman (Ketamanan), Ki Banar (Kebanaran), Ki Ketug (Ketugon), dan Ki Mangun (Kemangunan).
[7] Panjer di bawah kepemimpinan Ki Hastrasuto alias Ki Gede Panjer II (1657-1677) dengan Patih Ki Kertosuto. Ki Hastrasuto dan Ki Kertosuto adalah putra dari Ki Badranala alias Ki Gede Panjer I yang memimpin Panjer pada tahun 1642-1657 dan anti VOC Belanda.
[8] Didirikan tahun 1818, yang semula merupakan kantor kongsi dagang VOC Belanda yang dijadikan benteng pertahanan militer Belanda melawan kekuatan Panjer dalam Perang Diponegoro.
[9] Jepang menduduki wilayah Indonesia tahun 1942-1945.
[10] Didirikan tahun 1719 pada masa Kyai Kertanegara I penguasa Kadipaten Roma alias Kanjeng Raden Adipati Mangkuprojo Patih Kartasura yang anti Belanda.
[11] Peninggalan Hindu Syiwa abad 8-9M.
[12] Goa yang dipercaya menjadi tempat pertemuan Syekh Maulana Maghribi dengan Nyi Roro Kidul dan Nyi Blorong.
[13] Disebut juga sebagai Mbah Bayi, tokoh ulama/wali di pesisir selatan, keturunan Brawijaya V.
[14] Mbah Somalangu alias Mbah Sitongtong alias Syeikh Ibrahim,  murid Syekh Abdul Kahfi Awal.
[15] Mbah Untung Suropati alias Mbah Kepadangan Clapar.
[16] Mbah Agung alias Mbah Kajoran alias Panembahan Agung Kajoran alias Sunan Kajoran, diperkirakan hidup abad 15.
[17] Mbah Pako alias Mbah Kertadrana dimakamkan di bukit Sipako pegunungan Watuageng Tenggulun Wonotirto. Mbah Kertadrana adalah Adipati Sigaluh yang mengikuti Pangeran DIpanegara melawan Belanda.
[18] Disebut Bulupitu sebab terdapat pohon bulu (fiscus annulata) berjumlah pitu (tujuh) yang merupakan jenis pohon langka. Pesangrahan Bulupitu dipercaya merupakan tempat bertapabrata Jaka Sangkrip alias Kentol Surawijaya alias Mantri Gladag alias Hangabehi Hanggawangsa alias Arungbinang I.
[19] Pesanggrahan Pandan Kuning berhubungan dengan cerita Raden Sujono suami Dewi Sulastri dari Kadipaten Pucang Kembar yang berhasil mempertahankan Dewi Sulastri istrinya dari upaya penyanderaan Jaka Puring. Pesanggrahan ini dipercaya juga menjadi tempat istirahat/pesanggrahan Nyai Roro Kidul. Kadipaten Pucang Kembar ini berada di wilayah pesisir selatan bersebelahan dengan Kadipaten Kaleng, yang pada masa kekuasaan Pajang kedua kadipaten ini di-blengket-kan (disatukan) menjadi satu kadipaten baru bernama Kadipaten Roma yang beribukota di Sedayu (Gombong), tahun 1543.
[20] Pesanggrahan Karangbolong disebut juga Pesanggrahan Nyi Roro Kidul.
[21] Langkah korektif ini dapat dicermati pada dukungan Panjer terhadap Amangkurat I yang dikejar oleh pemberontakan Trunajaya sampai ke Panjer (30 Juni 1677), dan bahkan kemudian kekuatan Panjer berhasil memukul mundur kekuatan Trunajaya sampai dengan merebut kembali keraton Mataram di Plered. Lihat Ravie Ananda (2017), Panjer Nagari, Sisi Gelap Prusia Jawa, Yogyakarta, Penerbit Harveey, hal. 53-55.
[22] Ravie Ananda , 2017,  Panjer Nagari, Sisi Gelap Prusia Jawa, Yogyakarta, Penerbit Harveey, hal. 62-63.
[23] NU didirikan di Kebumen tahun 1936. Lihat www.nukebumen.or.id  Sekilas Sejarah NU Kebumen, lihat juga .https://manshuralkaf.wordpress.com/ 2013/06/15/menelusuri-sejarah-berdirinya-nu-di-kebumen/
[24] Pada 8 Desember 1944 pemerintah militer Jepang resmi mengumumkan  pembentukan pasukan sukarela Islam yang bernama Hizbullah sebagai korps cadangan kesatuan  Pembela Tanah Air (PETA). Lebih jauh lihat www.nu.or.id Rekam Jejak Laskar (Kyai-Santri) Hizbullah, Senin 26 Oktober 2015.

Reaksi:

About Author

Advertisement

 
Top