AS Chamidi AS Chamidi Author
Title: Gila Itu Asyik !
Author: AS Chamidi
Rating 5 of 5 Des:
Gila itu Asyik! Puisi dari Pasar Pereng Awalnya aku malas untuk ikut ke Obwis Pereng Kali Kemit Desa Grenggeng Karanganyar...

Gila itu Asyik!
Puisi dari Pasar Pereng




Awalnya aku malas untuk ikut ke Obwis Pereng Kali Kemit Desa Grenggeng Karanganyar. Pagi itu aku sudah kelelahan. Akan tetapi, begitu memasuki komplek Pasar Kemit dan membeli rokok kretek kesukaan, gairahku untuk ikut menikmati perjalanan acara mulai membuncah.

Memasuki pintu gerbang utama, suasana alam khas pedesaan mulai merasuk. Terdengar irama musik tradisional menggema merobek habis kemalasanku yang masih tersisa. Semilir angin dan keramahan petugas dan  pengunjung lain semakin memacuku untuk segera saja memasuki arena Obwis ini.



Tukar kepeng disini!


Memasuki lokasi inti Obwis, pemandangan suasana alam pasar tradisional pedesaan mengemuka. Tukar kepeng pun harus menjadi pilihan sebab seluruh transaksi di arena pasar akan menggunakan kepeng. Segepok kepeng sudah di tangan. Kepeng itu sendiri berupa sekeping anyaman pandang khas Desa Grenggeng, seukuran 5x10 cm. Rapi. Cukup kuat. Ada satu lobang di pojoknya.

Di warung bambu model gubuk, sebungkus gethuk  singkong yang punel  dengan campuran srundeng parutan kelapa muda sungguh membuatku takluk dengan kekhasan Obwis ini. Aku membayarnya dengan kepeng. Terasa banget aku berada di luar mainstream! 

Tiba-tiba hidup seakan mundur puluhan bahkan ratusan tahun! Aku makan makanan tradisional Jawa, dan aku membayarnya dengan bukan uang sebagaimana umumnya. Rasanya benar-benar aku tersedot lorong waktu mundur entah pada tahun berapa.  

Hasratku lebih ingin menikmati suasana pasarnya saja. Soal acara yang tengah berlangsung, aku mengalir saja. Dan berjalan di antara gubuk-gubuk warung bambu pun terasa begitu romantis. Sendiri berjalan. Sendiri bagai menikmati puisi-puisi masalalu.


Wedang kayu merah, pisang rebus, kepeng, jeruk, dan kacang rebus


Di sisi barat lokasi, sebuah warung minuman membuatku harus berhenti. Ya. Selain haus,  ingin kunikmati minuman yang dijajakan. Ada beberapa pilihan di warung khas itu. Seorang lelaki dewasa berpakaian khas Jawa menawarkan dagangannya.

Wedang kayu abang! 
Minuman kayu merah!
Minuman disuguhkan spesial dengan bathok (tempurung) kelapa. Segar manis. Kubayar pula dengan kepeng. Dan kembali aku tersedot pada lorong waktu entah kapan itu. Bersama kepulan asap rokok kretek, kucoba mengembalikan kesadaranku untuk kembali dari sedotan lorong waktu itu.

Gila!
Aku memekik dalam hati. 
Ini gila! Ide gila!
Terpaksa kusudahi kegilaan yang melanda. Kusadari bahwa kadang gila ini sungguh asyik. Bermain-main dalam lorong waktu mundur sungguh kegilaan tersendiri. Ah, sepertinya di lain waktu  harus kunikmati kembali kegilaan lorong waktu mundur ini!, batinku. Sendiri. Banyak suguhan khas yang belum kulumat habis di Pereng Kali ini.

Pereng Kali, sejengkal puisi masalalu. Pereng Kali, sebuah novel tanpa halaman. Saranku, sobat. Jangan pernah membaca novel ini jika kau takut gila. Karna gila ini mengasyikkan. (*) 





Reaksi:

About Author

Advertisement

 
Top