AS Chamidi AS Chamidi Author
Title: Menulis Novel Sejarah Islam
Author: AS Chamidi
Rating 5 of 5 Des:
MENULIS  NOVEL SEJARAH ISLAM [1] Agus Salim Chamidi [2] https://drive.google.com/open?id=1--EzIXBBg9scHSGiLOgDr6zU88P9p...



MENULIS  NOVEL SEJARAH ISLAM [1]
Agus Salim Chamidi[2]






1.    Pengertian dan Arti Penting  Membaca Novel Sejarah Islam
Menulis hasil riset sejarah Islam dalam bentuk  karya sastra novel sebenarnya sangat menarik. Setidaknya ada beberapa alasan, antara lain, bahwa: (1)hasil riset sejarah Islam yang terkesan  kaku menjadi lebih mengalir, hidup,  dan asyik dibaca, (2)hasil riset sejarah Islam dapat menyisipkan  sejumlah pesan moral keIslaman dengan lebih emosional, (3)hasil riset sejarah Islam yang belum tuntas dengan data minim pun mendapatkan ruang apresiasi. Akan tetapi,  menulis sejarah Islam dalam bentuk novel memang cukup membutuhkan energi tambahan dimana  data-data ilmiah sejarah  perlu dituangkan dalam  rangkaian cerita sampai dengan >10.000 kata, sehingga menulis novel sejarah Islam pun menjadi belum  banyak diminati banyak kalangan,  termasuk sejarawan Islam itu sendiri. Akan semakin sulit dan tidak menarik lagi, apabila sejarawan Islam tidak mau memulai mempelajari tentang bagaimana menulis novel sejarah.
Novel adalah karya sastra fiksi tentang serangkaian apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana. Novel umumnya lebih rumit,  panjang, da penuh konflik. Novel adalah cerita sang penulis yang sudah ditentukan plot (alur) dan setting (latar cerita) oleh sang penulis. Subyektivitas penulis cukup menonjol dalam penulisan novel (fiksi)
Novel sejarah merupakan karya fiksi nonfiksi (nonfiction fiction) yang mendasarkan cerita (fiksi) pada obyektivitas fakta sejarah (nonfiksi). Demikian juga novel sejarah Islam. Cerita yang dibangun oleh penulis novel itu terikat pada fakta-fakta historis dari hasil riset lapangan,  dokumentasi, dan heuristik (pengumpulan data). Fiksionalitas berbasis obyektivitas fakta sejarah. Atau dengan kata lain, penulis novel sejarah menuliskan fakta-fakta historis  dengan keluasan dan keluwesan ruang gerak fiksionalisasi. Fakta-fakta historis ini memuat unsur keaslian (authenticity), kesetiaan (faithfulness), dan lokalitas (locality). Novel sejarah yang berbasis pada fakta sejarah biografi seorang tokoh akan melahirkan novel sejarah biografi. Novel sejarah yang berbasis pada fakta ilmu pengetahuan sebagai content cerita akan melahirkan novel sejarah sains.
Membaca novel sejarah Islam pun menjadi bagian penting dalam kajian sejarah dan kebudayaan Islam (SKI). Membaca novel sejarah hasil riset seorang tokoh Islam misalnya, akan semakin melengkapi dan bermakna. Gambaran deskriptif berkaitan dengan setting, penokohan, dan peta konflik akan memperkaya pemahaman sejarah tokoh tersebut sekaligus kultur yang menyertainya. Setting membuat sosok tokoh menjadi lebih hidup sebab biasanya unsur sosial budaya di seputar tokoh tersebut tampil mengemuka. Deskripsi setting yang lengkap akan membantu pembaca berimajinasi seakan hidup bersama tokoh. Penokohan sebagai deskripsi atas sosok tokoh pun akan membantu pembaca menjadi lebih dekat dan mengenal sosok tokoh. Sedangkan peta konflik akan membantu pembaca untuk memahami bagaimana suasana sosiologis di seputar tokoh tersebut.      

2.    Teknik Menulis Novel Sejarah Islam
Sebagaimana novel pada umumnya, novel sejarah Islam itu juga memiliki unsur ekstrinsik dan intrinsik. Unsur ekstrinsik meliputi  biografi penulis, kondisi/situasi saat novel ditulis, nilai-nilai kandungan cerita (nilai sosial, budaya, moral, estetika), dan lainnya. Sedangkan unsur intrinsik meliputi:

a.       Tema. Tema merupakan  unsur terpenting novel. Tema adalah gagasan utama cerita novel. Tema menjadi  jiwa seluruh cerita.

Contoh:
-          Perjuangan Kyai  Samsul mendirikan pesantren
-          Kisah keterlibatanku dalam persoalan ODHA
-          Kisah perjalanan pendidikan Gus Ba menjadi Kyai di Pesantren Alaswangi
-          Pemikiran integrasi interkoneksi Profesor Amin Abdullah

b.      Tokoh. Tokoh adalah pemeran dalam cerita novel.
(1)   Pemeran protagonist, adalah tokoh/pemeran yang baik, positif, pintar, pelakon utama. Biasanya 1 orang. Bisa juga sebuah tim.
(2)   Pemeran antagonis adalah tokoh/pemeran yang jahat/buruk, melawan, beda, negative, pelakon utama antagonis. Bisa satu/beberapa orang.
(3)   Pemeran tritagonis adalah tokoh/pemeran yang menjadi penengah yang biasanya akan melerai, mempertemukan antara tokoh protagonist dengan tokoh antagonis. Bisa satu/beberapa orang.
(4)   Pemeran pembantu adalah pemeran yang terlibat membantu dalam perjalanan cerita sang tokoh protagonist, tokoh antagonis, ataupun tritagonis.

c.       Penokohan. Penokohan adalah  gambaran uraian tentang para tokoh.
(1)   Uraian bersifat analitik yang menguraikan sosok tokoh.
Contoh:
Kyai Samsul, wajahnya, tubuhnya, warna kulit, rambutnya, pakaiannya, dan lainnya.
Namanya Samsul. Nama lengkapnya Samsul Hadi. Tubuhnya kekar. Tubuh yang kenyang dengan pergulatan fisik. Wajahnya kokoh dengan sosot mata yang tajam namun teduh.
(2)   Uraian bersifat dramatik yang menguraikan gesture, perilaku, mental tokoh.


Misal:  
Kyai Samsul duduk terdiam. Kyai muda itu diam kokoh tak bergeming. Diam bagai batu karang. Karang kokoh Pantai Menganti. Hanya sorot kedua matanya yang terus mengawasi gerakan silat Tumijo preman Desa Karangturi. Ia paham benar jurus apa yang tengah dimainkan Tumijo. Bahkan ia paham titik lemah jurus itu.

d.      Plot. Plot adalah alur atau tahapan cerita. Plot dapat berupa alur progresif (maju dari awal sampai akhir),  regresif (mundur/flashback/kilasbalik), atau alur campuran. Secara umum, plot terdiri dari tahapan:
(1)   Tahap eksposisi, pengenalan, orientasi setting dan tokoh-tokoh
(2)   Tahap awal konflik, pertentangan, peristiwa pemicu masalah/konflik
(3)   Tahap peningkatan konflik
(4)   Tahap puncak/klimaks, ketegangan masalah
(5)   Tahap antiklimaks/ketegangan  mereda
(6)   Tahap akhir/ending dan penyelesaian konflik, resolusi konflik, evaluasi (happy/sad ending).

+ Koda, ulasan/komentar isi cerita sejarah oleh tokoh di luar penulis


e.       Setting. Setting adalah latar cerita. Latar ini meliputi  latar tempat, latar waktu, latar suasana
Misal:
Pasar Karangturi siang itu. Matahari panas membakar. Debu beterbangan terbawa angin bersama deru asap knalpot angkot tua. Sampah kering berserakan bebas. Panas siang semakin panas di warung Lik Sarno. Warung rames di pojok timur laut Pasar Karangturi.

f.       Gaya Bahasa. Gaya bahasa menyangkut  pemilihan kata, penggunaan kalimat, penghematan kata, majas, dan lainnya, termasuk pemasukan kata-kata lokal.
Misal:
Menunggu kepastian Alex sungguh melelahkan. Siti bagai pungguk yang merindukan bulan. Alex kekasih yang ia harapkan kelak menjadi imam hidupnya.  Sementara ayahnya sudah menyodorkan Rasmin anak mbarep Lurah Karsino. Ibarat bunga mekar indah wangi mempesona, Siti tengah dihadapkan pada dua pilihan sulit. Bagai makan buah simalakama.

g.      Sudut pandang (point of view). Sudut pandang adalah  cara penulis novel untuk meletakkan tokoh/pemeran.
(1)   Orang pertama dimana tokoh disebut ‘aku/kami’
Misal:
Namaku Siti. Aku hanyalah gadis desa. Bahkan aku terlahir tidak sempurna. Buta. Gelap. Tanpa masadepan yang jelas. Bahkan Umbu kakak kandungku sendiri sering memanggilku, hai picek! Ya, picek, buta. Namun begitu, kata ibuku, aku cantik. Bahkan ibu pernah membisikkan kata-kata yang selalu kuingat hingga kini. Kowe ayu, Ti. Kowe paling ayu sa’ umah, Ti.
 
(2)   Orang ketiga dimana tokoh disebut ‘dia/mereka/si Anu’
Siti, seorang gadis desa. Ia terlahir tidak sempurna. Buta. Gelap. Tanpa harapan masa depan. Ia hidup bersama ibu dan kakak perempuannya. Yu Juminem nama ibunya. Umbu nama kakak perempuannya.

h.      Amanat. Amanat adalah pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh penulis novel melalui novelnya. Amanat dapat merupakan  pesan tersurat maupun  pesan tersirat. Amanat biasanya menyangkut hikmah, pesan moral.
Misal:
-          Bahwa perjuangan mensyiarkan agama Islam itu butuh kecerdasan
-          Bahwa membangun keluarga yang samawa itu perlu diimbangi dengan ikhtiyar melalui doa dan puasa.
-          Bahwa menjadi kyai itu tidaklah sekedar sebab keturunan, aka tetapi kyai harus menguasai ilmu agama Islam, menguasai hati dan akal pikiran, dan memikirkan masa depan anak-anak dan santri-santrinya juga.
-          Bahwa rakyat kecil di desa juga memiliki hak-hak dasar atas pendidikan, kesehatan, dan perumahan yang layak.

Hal penting dalam upaya teknis penulisan novel sejarah adalah penemuan peta konflik. Penulis novel sejarah harus mampu mencari, menggali, dan menemukan masalah yang konfliktual (conflictual angle) dari proses riset sejarahnya. Penemuan atas peta konflik ini menjadi penting untuk memudahkan proses penyusunan dan pembuatan novel itu sendiri. Pada sisi lain, kemampuan penulis dalam menemukan dan menuliskan peta konflik ini menjadikan menjadi ukuran bobot penulis atas karya novel sejarahnya. Oleh karenanya, dalam upaya penggalian data historis di lapangan untuk bahan penulisan novel sejarah, penulis harus membekali diri dengan pedoman wawancara dan analisa berbasis kata tanya ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’ untuk menemukan dan menajamkan peta konflik. Peta konflik yang sudah ditemukan akan memudahkan penulis dalam membuat skema awal membuat novel sejarah, baik tema, setting, sudut padang, amanat, tokoh, penokohan, plot, dan gaya bahasa.

3.    Mapping Tema-tema Sejarah untuk Novel Sejarah Islam
Sejarah dan perikehidupan seorang tokoh Islam  dan suatu masyarakat Muslim berkaitan dengan kebudayaan yang menyertainya, baik yang berupa sistem nilai, sistem sosial budaya, dan artefaks benda budaya. Oleh karenanya, pemetaan tematik penulisan novel sejarah Islam dapat digolongkan dalam tema tokoh dan tema benda budaya dan tradisi Islam

a.      Tema Tokoh
                    (1)     Sejarah dan Pemikiran KH. Ahmad Dahlan
                    (2)     Sejarah dan Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari
                    (3)     Cak Nun dan Sejarah Pemikirannya (2000-2018)
                    (4)     Sejarah dan Pemikiran Amin Abdillah tentang Integrasi Interkoneksi
                    (5)     Sejarah dan Kiprah Perjuangan Nyai Sinta Nuriyah Menjadi Ibu Negara
                    (6)     Kisah Perjuangan Siti Menjadi Guru Inklusi
                    (7)     Kisah Kyai Amin Mendirikan Madrasah di Desa Sukamiskin
                    (8)     Kisah Perjalanan Monalisa Naik Haji
                    (9)     Kisah Perjalanan Gus Ba Menjadi Kyai
                (10)     Kisah Perjalanan Cinta Gus Dur dan Sinta Nuriyah

b.      Tema Benda Peninggalan Budaya dan Tradisi Islam
                    (1)     Sejarah dan Kiprah Perjuangan NU di Era Reformasi
                    (2)     Sejarah dan Kiprah Perjuangan Muhammadiyah di Era Reformasi
                    (3)     Sejarah dan Kiprah Panti Asuhan An-Nur di Magelang
                    (4)     Sejarah dan Kiprah Pesantren Tebuireng di Era Reformasi
                    (5)     Kajian Kesejarahan Kitab Ngudi Susila Karya KH.Bisri Mustofa Rembang
                    (6)     Kajian Sejarah Seni Budaya Jamjaneng Peniron Kebumen
                    (7)     Sejarah dan Kiprah UIN Suka dalam Pemikiran Islam
                    (8)     Sejarah Gedung Amin Abdullah
                    (9)     Sejarah Berdirinya Masjid Somalangu Kebumen
                (10)     Sejarah Berdirinya Pesantren Gontor Ponorogo

4.    Strategi Menulis Novel
a.       Satu strategi menulis novel adalah mengawali tulisan pada bagian pertama dengan kata atau kalimat yang membuat penasaran pembaca untuk terus membaca kalimat-kalimat berikutnya.


Contoh:
-          Aamiiiiinn !
-          Thung Thak Thung …
-          Kangen!
-          Ah, moso’?
-          Orangnya pendiam, namun brilian.
-          Aku bisa mandiri!

b.      Strategi lain adalah memberikan judul bagi seluruh hasil tulisan novel sejarah Anda dengan judul yang menarik. Untuk membuat judul, Anda perlu mendiskusikan judul dengan penerbit dan atau penulis lain. Judul yang menarik adalah judul yang mewakili gambaran isi novel dan membuat pembaca ingin membacanya habis.
Contoh:
-          Amin Abdullah Sang Rektor
-          Siti Guru Inklusi
-          Jamjaneng Perempuan
-          Pesantren Jigang



Berikut contoh skema dalam membuat novel sejarah Islam.


Skema 1:
Tema
Setting
Sudut Pandang
Amanat/
Pesan
Tokoh
Penokohan
Plot
Gaya Bahasa
Perjuangan Amin Abdullah Membumikan Pemikiran Integrasi Interkoneksi

-  UIN Suka
-  Sebelum jadi rektor
-  Setelah jadi rektor
-  Situasi?
-  Dia (Amin)
-    Agama dan ilmu pengetahuan  tidak dapat dipisahkan

-    Agama dan IP harus ketemu.

-    Agama dan IP dapat diintegrasikan da n atau diinterkoneksi kan

-    Orang Islam harus maju
-    dlsb
-    Amin Abdullah


Rektor, filsuf, pemikir Islam
Progresif
-  Awal orientasi

-  Awal mslh

-  Pembesaran mslh

-  Konflik

-  Konflik mereda

-  Resolusi

-  Koda

-  BIndo
-  Bahasa Jawa
-  BIndo +Lokal
-  Gaya humor
-  Gaya ilmiah
-  Gaya ndesa
-  Deskripsi
-  Analitik
-  Dialogis




R
Lawan 1






S
Pendukung






T
Lawan 2






U
Penengah




Skema 2:
Tema
Setting
Sudut Pandang
Amanat/
Pesan
Tokoh
Penokohan
Plot
Gaya Bahasa
Kisah Perjuangan Siti Menjadi Guru Inklusi

-  UIN Suka

-  MI Desa Sruni
-  Aku (Siti)
-    Orang berkebutuhan khusus (OBK) punya hak mendapatkan pendidikan tinggi
-    OBK punya hak mendapatkan ruang mentasarufkan ilmu
-    OBK berhak mencintai dan dicintai
-    OBK berhak mendapatkan kesejahteraan hidup
-    Siti

-  Gadis cerdas, akhlak mulia, kuliah, ingin menjadi guru, dlsb
-  Progresif
-  Awal mslh
-  Orientasi
-  Pembesaran mslh
-  Konflik
-  Konflik mereda
-  Resolusi
-  (Koda)

-  BIndo
-  Bahasa Jawa
-  BIndo +Lokal
-  Gaya humor
-  Gaya ilmiah
-  Gaya ndesa
-  Ayat2 AQ dan Hadits
-  Puisi
-  Deskripsi
-  Analitik
-  Dialogis




- Rudi
Penentang 1






- Salam
Pendukung






- Tutik
Penentang 2






- Umi
Penengah



Skema 3:
Tema
Setting
Sudut Pandang
Amanat/
Pesan
Tokoh
Penokohan
Plot
Gaya Bahasa
Sejarah Perjalanan Seni Budaya Jamjaneng  Perempuan Peniron Kebumen

-  Desa Peniron

-  Dia (Jannah)
-    Dakwah Islamiyah dapat dilakukan melalui seni budaya jamjaneng
-    Perempuan punya hak atas jamjaneng
-    Perempuan mampu menyokong income RT
-    Jannah

-  Pimpinan grup, perempuan muda, IRT, cantik, cerdas, dlsb
-  Progresif
-  Awal mslh
-  Orientasi
-  Pembesaran mslh
-  Konflik
-  Konflik mereda
-  Resolusi
-  (Koda)

-  Bahasa Jawa
-  BIndo
-  BIndo +Lokal
-  Gaya humor
-  Gaya ilmiah
-  Gaya ndesa
-  Ayat2 AQ dan Hadits
-  Deskripsi
-  Analitik
-  Dialogis




- Rudi
Penentang 1






- Salam
Pendukung






- Tinah
Penentang 2






- Umi
Penengah



                                                                                               







[1] Disampaikan dalam kegiatan Kuliah Dosen Tamu  Jurusan  Sejarah dan  Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kamis 25 April 2019.

[2] Dosen IAINU Kebumen, penulis novel.

Reaksi:

About Author

Advertisement

 
Top